Selasa, 18 Juni 2013

Baluran Dan Perjalanan Melelahkan Menuju Kesana



"The journey has many bumps, twists and turns. But one day you will reach your destination. You'll know for sure then that it was all worth it. So keep on trusting and keep on walking. The end will be more glorious than you can imagine. "
-Anusa Atukorala-


Taman Nasional Baluran adalah salah satu destinasi wisata yang menjadi mimpi saya semenjak lama. Dulu, sekumpulan teman jalan saya sudah pernah mengajak untuk berkunjung kesana. Tapi saya terpaksa menolak ajakan mereka sehubungan dengan dana yang kagak ada ditambah waktu itu saya masih sibuk mengerjakan skripsi. Teman-teman saya akhirnya tetap berangkat ke Baluran tanpa saya dan memberikan oleh-oleh foto dan cerita yang membuat saya semakin bernafsu untuk mengunjunginya. Ah, sabana maha luas, pantai pasir putih  nan sepi dan juga sekawanan hewan liar sungguh mengundang ketertarikan di dalam diri ini. Pokoknya suatu saat nanti saya harus kesana! Harus! Saya pun mengompor-ngompori teman saya yang lain. Awalnya banyak banget yang berminat hingga akhirnya mendekati hari-H hanya enam orang yang menyatakan kesungguhan mereka. Keenam orang itu adalah kakak saya (Vica) dan kedua temannya, Mbak Lukit dan Mbak Septi, dua teman jalan-jalan dari jaman baheula si Nurul dan Aik, dan juga teman KKN saya dulu, si Dian. Setelah merundingkan, berangkatlah kelompok petualang kami yang terdiri dari dua pria dan lima wanita menuju ke Baluran yang terletak di ujung timur Pulau Jawa pada rabu malam (5 Juni 2013) lalu. Be-rang-kaaaat!!

Rabu, 15 Mei 2013

Stunning Sragen: Mengunjungi Leluhur Manusia Dan Berkeliling Waduk Pakai Perahu



Kalau buat saya, traveling itu tidaklah harus jalan-jalan ke suatu tempat yang jauh, ke luar negeri atau ke pulau terluar Indonesia misalnya. Err, ini pendapat saya personal loh ya. Traveling itu lebih ke persoalan memberikan kepuasan hati. Jadi, sebenarnya tidak ada korelasi yang cukup signifikan antara jarak tempat dengan kepuasan hati. Selama yang dekat-dekat juga bisa memberikan kepuasan hati, kenapa ngebet ke yang jauh-jauh? Lagipula semakin jauh tentunya semakin besar juga kan biaya yang harus kita keluarkan? Hohoh. Berdasarkan pemikiran dan pendapat pribadi inilah saya punya keinginan untuk traveling di daerah yang dekat-dekat dengan posisi saya berada terlebih dahulu. Saat ini, saya tengah berada di Salatiga. Suatu daerah yang berada di bawah lindungan Provinsi Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah sendiri terdiri atas 35 Kabupaten dan Kota termasuk Kota Salatiga. Bayangkan aja deh, kalau kita diberi satu hari saja untuk mengelilingi satu kota/kabupaten, maka dibutuhkan satu bulan lebih untuk mengelilingi Jawa Tengah. Itu baru Jawa Tengah...belum Pulau Jawa...belum pula Indonesia. See?

Jumat, 10 Mei 2013

Pssst, Ada Air Terjun Dan Candi Tersembunyi Di Banyubiru!



Banyubiru adalah nama salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Semarang. Letaknya tak jauh dari Salatiga, tak jauh pula dari Ambarawa. Mungkin sama-sama butuh waktu 45 menitan untuk menuju kecamatan ini baik dari Salatiga maupun Ambarawa. Awalnya, tak banyak hal menarik yang saya tahu dari wilayah ini. Hingga kemudian perjalanan saya bersama Yanta dan Meykke pada 30 April 2013 yang lalu telah sukses membuka kedua mata ini kalau di Banyubiru ada hal yang pantas untuk dikunjungi. Tidak hanya ada satu, tapi dua obyek wisata tersembunyi di wilayah Banyubiru. Siapa sangka ada candi di Banyubiru? Siapa sangka pula ada air terjun kembar yang dimiliki Banyubiru? Tak percaya? Baiklah, fasten your seatbelt. Mari ikut menjelajahi bersama saya melalui postingan ini. Siap? *kencengin tali sepatu*

Kamis, 09 Mei 2013

Benteng Willem I: Jejak Peninggalan Belanda Di Ambarawa



Bangunan tua sisa jaman kolonial selalu sukses bikin saya penasaran berat. Arsitekturnya yang kokoh dan mengagumkan memang pantas menjadikan bangunan-bangunan kuno ini patut untuk dikunjungi. Sayangnya, Indonesia adalah contoh negara yang kurang menjaga dan merawat bangunan-bangunan tua tersebut. Di berbagai daerah, bangunan kolonial ini dibiarkan teronggok dimakan usia tanpa mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerahnya. Ada sih yang dimanfaatkan sebagai gedung perkantoran atau pula museum. Namun, presentasenya kecil dibandingkan lebih banyaknya gedung-gedung kuno yang dirubuhkan dan digantikan oleh gedung-gedung modern. Dengan berat hati, saya mengakui Kota Salatiga adalah salah satu kota yang kurang bisa menghargai bangunan kuno, bahkan ada salah satu bangunan yang dirubuhkan dan rencananya hendak digantikan dengan bangunan mall modern. Beritanya pun menyebar luas dimana-mana. Hiks. Padahal, banyak negara yang berhasil menjaga bangunan kuno dan justru mampu mengundang masuknya arus wisatawan ke negara tersebut. Malaka di Malaysia, Ho Chi Minh di Vietnam adalah beberapa contohnya. Anyway, dekat dengan Salatiga terdapat satu daerah yang cukup kaya akan peninggalan bersejarah. Daerah itu adalah Ambarawa-suatu tempat yang pernah menjadi zona pertempuran antara warga pribumi dengan pasukan sekutu yang dikenal dengan Pertempuran Empat Hari Ambarawa.

Rabu, 08 Mei 2013

Latihan Mendaki Di Gunung Andong - Part II End



Sekitar jam 10 kurang 15 menit, sampailah kami di persimpangan jalan. Salah satu jalan menuntun kami menuju puncak, sedangkan jalan lainnya membawa ke semacam pondokan kecil. Penasaran, kami pun memutuskan untuk melihat pondokan sebelum berjalan naik menuju puncak. Letak pondokan ini memang tidak jauh dari persimpangan jalan tadi, meski posisinya yang lebih tinggi membuat kami berjalan sedikit menanjak. Sedikit kok. Beneran deh. Sesampainya di dekat pondokan tersebut akhirnya kami paham untuk apa pondokan ini dibuat. Ada bekas api unggun di depan pondokan sederhana tersebut yang mengukuhkan fungsinya sebagai shelter untuk beristirahat bagi para pendaki dengan niatan bermalam di Gunung Andong. Sayangnya, kondisi pondokan itu nampak kacau dengan corat coret tidak jelas dari ulah tangan-tangan jahil di dinding-dindingya. Belum lagi, sampah-sampah berserakan pula di sekitar halamannya. Duh, rasanya jadi gemes. Ayo dong, jaga lingkungan kita-gunung kita. Bawa lagi kek sampah yang udah kita hasilkan. Jangan ditinggal di gunung begitu aja dong. Kasian kan gunungnya? *puk-pukin Gunung Andong*

Kamis, 02 Mei 2013

Latihan Mendaki Di Gunung Andong - Part I



Sebagai seorang yang lahir dan besar di Salatiga, tentunya mata saya sudah tidak asing menatap jajaran gunung-gunung setiap harinya. Yap, Kota Salatiga adalah salah satu kota di Jawa Tengah yang berada dalam perlindungan berbagai gunung yang mengelilingi. Gunung Merbabu adalah gunung yang paling besar sekaligus mencolok mata karena dari seluruh sudut kota kecil ini, gunung itulah yang paling bisa terlihat dan dilihat dengan jelas. Sayangnya, meski sudah sedewasa ini (mau 22 tahun cuuy!) niat saya untuk mendaki Gunung Merbabu belum kesampaian-kesampaian. Duh, rasanya buat saya pribadi sih malu luar biasa. Seolah-olah Kartu Tanda Penduduk (KTP) saya dipertanyakan keasliannya. Tsaaah! Semenjak saya sudah dinyatakan lulus dari kampus, entah kenapa hasrat untuk mendaki Gunung Merbabu kembali menggebu-gebu. Seumpama putri tidur, hasrat saya ini terbangun setelah dicium mesra oleh sang pangeran (apa sih? *abaikan*). Tapi  bagi saya Gunung Merbabu sepertinya tidak mudah untuk didaki, perlu persiapan nan matang jauh-jauh hari sebelum mendakinya. Berbekal hasrat menggebu itulah, akhirnya saya rela melakukan persiapan yang agak gila. Persiapan itu adalah mendaki gunung lain yang memiliki track dan tantangan yang nyaris serupa dengan Gunung Merbabu. Yah, hitung-hitung latihan. Dan setelah menimbang, mengingat dan memutuskan, maka terpilihlah Gunung Andong sebagai sarana latihan saya.

Sabtu, 27 April 2013

Teringat Masa Kecil Di Museum Anak Kolong Tangga




Kadang saya kasihan sama anak-anak kecil jaman sekarang. Kemajuan teknologi yang derasnya minta ampun membuat anak-anak kecil terpenjara. Terpenjara oleh mainan-mainan modern mereka yang kini serba digital. Iya sih, emang nampak lebih menarik dengan grafis dan tema yang enchanting. Tapi ya udah, dunia main mereka ya cuma di depan atau sekitaran gadget mereka. Beda banget deh sama jaman dulu. Sebagai anak generasi 90-an, meski mainan juga sudah mulai modern semacam play station, tamagochi, tamiya, atau crush gear tapi toh saya masih sempat juga main mainan tradisional. Saya masih ingat dulu sering lari ke kebun samping rumah demi bermain layangan bahkan rela nyebur di sungai kecil depan rumah demi mencari cethul (ikan kecil yang hidup di sungai). Pokoknya, waktu itu dunia main kami maha luas dan kami bebas berlarian kemana saja. Beda banget kan sama anak-anak kecil jaman sekarang? Rasa kasihan dan prihatin mungkin pulalah yang menjadikan Rudi Corens seorang warga Belgia menginisiasi pembentukan museum untuk anak-anak yang penuh dengan mainan anak dari masa lampau. Dengan begitu, anak-anak kecil jaman sekarang tidak melulu hanya bisa duduk manis menikmati mainan digitalnya akan tetapi juga bisa tergerak untuk berdiri dan berlarian bebas di luaran sana. Penasaran?